2. Penumpukan Kerumunan
Di beberapa titik kota, kerumunan yang terbentuk memicu:
-
Kemacetan
-
Jalan kaki terganggu
-
Pedagang tidak bisa berjualan dengan nyaman
3. Keluhan Warga
Tidak semua warga menikmati musik jalanan. Beberapa mengeluhkan suara keras pada malam hari, terutama di area pemukiman.
4. Sengketa Lokasi Antar-Musisi
Di kota besar seperti Surabaya dan Malang, beberapa musisi berebut spot strategis sehingga diperlukan penataan.
Pemda Mulai Menata, Bukan Melarang
Sejumlah pemerintah daerah tidak ingin mematikan kreativitas pelaku seni. Penataan dilakukan agar kegiatan tetap berjalan dengan tertib.
Kebijakan yang dipersiapkan meliputi:
-
Penetapan zona aman pertunjukan musik jalanan
-
Batasan volume sesuai standar kebisingan
-
Jam tampil yang tidak mengganggu warga
-
Pemberian kartu identitas musisi untuk pendataan
-
Fasilitasi event seni jalanan resmi
Pendekatan ini meniru kota-kota besar dunia seperti Melbourne, Seoul, hingga Tokyo yang telah lama menata budaya street performance.
Musik Jalanan adalah Fenomena Budaya yang Terus Berkembang
Tren musik jalanan membuktikan bahwa kreativitas generasi muda terus berkembang walau fasilitas terbatas. Dengan pengelolaan yang baik, musik jalanan bisa menjadi:
-
Daya tarik wisata
-
Ruang tumbuh ekonomi kreatif
-
Sarana edukasi seni
-
Aktivitas positif di ruang publik
Selama dijalankan secara tertib dan menghormati kenyamanan umum, musik jalanan berpotensi menjadi bagian penting dari identitas budaya urban di Indonesia.









