Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar bencana alam di Indonesia termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi, karena dipicu oleh faktor cuaca dan iklim.
Dampak Fenomena Hidrometeorologi di Jawa Timur
Sebagai provinsi dengan topografi beragam — mulai dari pegunungan, dataran rendah, hingga pesisir — Jawa Timur termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap dampak hidrometeorologi.
- Banjir dan Genangan Air
Wilayah seperti Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, dan Jember kerap mengalami banjir saat curah hujan tinggi. Kondisi drainase yang tidak optimal dan penurunan muka tanah memperparah risiko genangan air di daerah perkotaan. - Tanah Longsor di Daerah Pegunungan
Kabupaten Malang, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan merupakan kawasan rawan longsor akibat curah hujan lebat dan kemiringan lereng tinggi. BMKG mencatat, sebagian besar kejadian longsor di Jatim terjadi pada periode Desember hingga Februari, saat puncak musim hujan. - Angin Kencang dan Puting Beliung
Beberapa wilayah seperti Probolinggo, Mojokerto, dan Bojonegoro kerap dilanda angin kencang musiman. Fenomena ini muncul akibat perbedaan tekanan udara antara wilayah panas dan dingin yang ekstrem. - Gangguan pada Sektor Pertanian dan Infrastruktur
Hujan ekstrem dapat merusak lahan pertanian, menyebabkan gagal panen, dan menghambat distribusi logistik. Di sisi lain, infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan jaringan listrik juga rawan rusak akibat banjir dan longsor.
Upaya Mitigasi dan Pencegahan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama BPBD dan BMKG terus berkoordinasi untuk memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:
- Pemetaan wilayah rawan banjir dan longsor,









